Kinanthi Ny(S)andhung

'bout MEAugust 31, 2006 5:24 am

Seharusnya aku bersemangat hari ini. Seperti minggu lalu. Dengan kesibukan lama untuk sesuatu yang baru.
Seharusnya aku mulai melanjutkan lagi hari ini. Rencana-rencana sebelumnya. Mengejar waktu yang berlari ringan tanpa beban.
Seharusnya aku bersiap-siap hari ini. Karena bekalku terasa tipis. Terlalu banyak yang aku tak punya.
Seharusnya aku tersenyum hari ini. Impianku tinggal sebentar lagi. Gerbang itu bahkan sudah terlihat dari sini.

Tapi rasanya hampa.
Kakiku masih terus berjalan, tapi hatiku tertinggal di belakang.
Aku ingin berhenti sejenak. Memandang yang lalu, yang berat kutinggalkan.
Aku ingin berlari. Menjauh dari semua ini. Membiarkan semua terjadi tanpa kuasaku.

Takut…..di sana mungkin akan asing sekali.
Jauh berbeda dan tanpa semua yang dulu pernah ada.

Yang kuingin sekarang hanyalah ada tanganmu.
Yang menyeretku berlari ke gerbang itu. Berlari membawa nafasku.
Yang kuingin sekarang hanyalah pelukmu.
Yang menutupi mataku. Membawa damaiku dalam gelap.

*mungkin sakit kepala ini yang membuatku bimbang, atau bimbang ini yang membuatku sakit kepala*

luvMarch 31, 2006 2:11 am

Malam itu terasa panjang sekali, mungkin karena di sini sepi.
Seharusnya aku teringat dirimu yang tak ada di sini.
Tapi tidak, sepertinya aku hanya sesaat merasa kehadiranmu berarti.

Kuharap pagi segera tiba, dan berganti esok hari.
Aku ingin mengulangi lagi berlalunya hari.
Tapi bersama dia lagi.

Jadi, boleh tidak aku berhenti.
Sejenak saja, tak lama, sekedar menyegarkan hati.
Mungkin nanti aku juga akan kembali.
Saat itu mungkin aku akan berlari.
Mengejarmu tak henti.

Boleh? Nanti kutemani kau bahkan sampai mati.
Jadi, boleh ya, hanya untuk sesaat ini….

my off(ice)March 23, 2006 3:56 am

Ternyata butuh keberanian yang besar meski hanya sekedar untuk menanyakan hal ini padanya. Mungkin seberat ketika harus bertanya pada seseorang apakah dia mau menjadi kekasih kita.

Ternyata butuh banyak persiapan meski sekedar untuk bertanya. Menyiapkan kata-kata pembuka, mencari moment yang tepat, menyiapkan jawaban jika dia balik menanyakan alasanku atau alasannya kenapa harus menerimaku, mempetimbangkan apakah sudah tepat aku bertanya dan terutama menyiapkan mental jika ternyata dia menolakku.

Dan hari itu, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani menanyakan lewat sms, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani menanyakan dengan nada becanda, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani memasang status di YM : menunggumu mengatakan YA atau TIDAK, akhirnya aku memberanikah diri bertanya dengan serius (ini pun lewat telpon, karena aku tak akan punya keberanian lebih untuk menatap wajahnya yang dengan tersenyum mengatakan MAAF jika ternyata dia menolakku).

Seperti yang tlah kuduga, dia mengatakan TIDAK. Aku tahu itu pasti terjadi tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan. Kata-katanya yang menjelaskan mengapa harus TIDAK aku tak mendengar lagi bahkan udara di sekitarku menjadi dingin entah karena AC atau karena tubuhku yang sudah berkeringat dingin sedari tadi.

Tapi ternyata juga, meski berat, setelah awalnya terlewati semua menjadi mudah. Lidahpun tak terasa kelu dan kata-kata pun dengan lancar menceritakan padanya. Tentang betapa berat memulai, tentang keluh kesah yang kurasakan selama ini, tentang betapa leganya aku sekarang.

Satu hal yang aku tak bilang ke dia, aku ingin menangis ketika dia bilang TIDAK, tapi aku tak bisa.
*Mungkin aku tak sesedih itu*

- tulisanku kok jadi aneh ya, mungkin karena sudah tak ada soul nya lagi peristiwa kemarin :) -

kinanthiMarch 13, 2006 4:19 am


DRAGOSTEA DIN TEI by O-zone

Ma-ia hii Ma-ia huu Ma-ia hoo Ma-ia haha (x4)

Alo, salut, sunt eu, un haiduc si te rog, iubirea mea, primeste fericirea.
Alo, alo, sunt eu, Picasso ti-am dat beep si sunt voinic Dar sa stii, nu-ti cer nimic.

Reff :
Vrei sa pleci dar nu-mã, nu-mã iei Nu-mã, nu-mã iei, nu-mã, nu-mã, nu-mã iei
Chipul tãu si dragostea din tei Mi-amintesc de ochii tãi.
Vrei sã pleci dar nu-mã, nu-mã iei Nu-mã, nu-mã iei, nu-mã, nu-mã, nu-mã iei
Chipul tãu si dragostea din tei Mi-amintesc de ochii tãi.

Te sun, sã-ti spun, ce simt, acum Alo, iubirea mea sunt eu, fericirea.
Alo, alo, sunt iarasi eu, Picasso ti-am dat beep si sunt voinic Dar sã stii, nu-ti cer nimic.

Reff
Ma-ia hii Ma-ia huu Ma-ia hoo Ma-ia haha (x4)
Reff (x2)

Paling suka liat gayanya chicken little nge-dance….hi hi hi…

luvMarch 9, 2006 7:20 am

Huh, kenapa hari ini kamu dingin sekali?

Biasanya aku selalu melihat seutas senyum di bibirmu disertai ejekan-ejekan tak bermutu. Kenapa kamu tak tersenyum padaku? Kenapa kata-katamu hanya bla..bla..bla…tak ada nyawanya? Waaa….What’s wrong???? Wajahmu benar-benar beku!!

Parahnya lagi….KENAPA KAMU MASIH BEGITU MANIS!!!!

katanya kamu memang dingin yah?
*lemas dan ngantuk entah kenapa>*

kinanthiMarch 7, 2006 12:31 pm

“Ennis merasa seakan isi perutnya ditarik keluar perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Dia berhenti di tepi jalan, dan dalam serbuan salju yang baru turun dia berusaha muntah, tapi tidak ada yang keluar. Belum pernah dia merasa seburuk ini, dan butuh waktu lama hingga perasaan itu hilang.”

Sepenggal resensi yang aku lihat di toko buku langgananku membuatku tertarik untuk membelinya. Karena selain penafsiran penulis tentang bagaimana perasaan seseorang ketika jatuh cinta hampir mirip dengan penafsiranku, film yang diambil dan diberi judul yang sama dengan buku ini (baca : Brokeback Mountain) berhasil masuk nominasi Oscar.

Dengan tanpa bermaksud mengatakan bahwa semua film yang masuk nominasi Oscar bagus. Terkadang label Oscar justru menipu (tidak termasuk A Beautiful Mind & LOTR). Tapi sepertinya film yang berkisah tentang cinta dua manusia yang sama jenis ini menawarkan sesuatu yang berbeda.

Buku Tipis Itu
Sebenarnya jalan cerita kisah yang ditulis dalam buku yang hanya setebal 79 halaman ini sangatlah padat dengan bahasa yang singkat. Mulai dari pekerjaan yang mempertemukan mereka (Annes & Jack) di Gunung Brokeback, sepenggal kisah ketika cinta mereka bersemi, kehidupan normal mereka setelah berpisah (punya istri & anak), pertemuan kembali mereka, perpisahan mereka kembali hingga sebuah surat yang mengabarkan bahwa Jack telah meninggal dunia.

Pada awalnya sempat ragu juga, bagaimana mungkin buku setipis ini dapat mengungkapkan kisah yang dapat difilmkan dalam 2 jam. Karena pada dasarnya dengan buku, sebuah cerita dapat disampaikan dengan lebih kaya dan lebih luas. Tidak terpatok waktu dan tempat atau juga tidak terpatok pada suatu karakter atau watak yang harus diwakilkan pada seorang tokoh seperti halnya film. Bandingkan dengan Harry Potter yang minimal punya tebal 300 an halaman dan itupun menjadi tidak lengkap ketika dijadikan film hanya 3 jam.

Hmm…buku favoritku, Negeri Kabut-nya SGA, sepertinya menarik juga untuk difilmkan. Dan sepertinya untuk saat ini hanya Garin Nugraha yang sanggup. Siapa tahu bisa mendapat Golden Globe sebagai sutradara terbaik seperti Ang Lee, sutradara film Brokeback Mountain ini.

Cinta Yang Mengharukan
Bagian paling menarik adalah ketika Ennis mencoba menelusur kembali kehidupan Jack dengan mendatangi rumah orang tua Jack setelah Jack meninggal dunia. Mengenang kembali saat-saat bersama Jack, memandangi kamar Jack seakan-akan ada Jack di sana. Dan selalu bersyukur lega ketika saat tidur malam mimpinya adalah tentang Jack. Menemukan kemejanya yang hilang, yang ternyata diambil diam-diam oleh Jack. Kemeja dengan bekas darah dan kancing yang sudah lepas sana sini….uhhh…..

Bagiku ini sungguh-sungguh mengharukan dan membuat dadaku terasa perih, sesak. Tanpa tersadar air mata sudah mengalir di pipiku. Bagaimana mungkin sebuah hubungan seperti mereka bisa begitu indah dan terasa nyata. Sedangkan selama ini aku berpikiran bahwa hubungan lawan jenis hanya akan terjadi dengan alasan seks (untuk gay) dan alasan feminisme (untuk lesbian). Ah, mungkin aku harus membuka lagi pikiranku.

Sepertinya film ini adalah target aku nonton bulan ini. Selain Realita, Cinta & Rock ‘n Roll yang menurut rekomendasi temanku sangat bagus dan layak untuk mendapatkan nominasi Oscar. Ayo nonton..

..dan ternyata Ang Lee pun juga menangis…

my off(ice)March 2, 2006 10:35 am

Pertama kali dia bilang klo dia mo pindah kantor, aku tersenyum. Kemudian aku tertawa dan merasa senang. Alhamdulillah, akhirnya dia akan menemukan kehidupan yang lebih baik. Berkali-kali aku mengucapkan selamat dan bertepuk tangan. Untunglah tidak kubawakan tarian kemenangan..he he…

Waktu pulang ke rumah, aku baru sadar. Kalau dia pergi……

…aku tak akan setiap hari bertemu dengannya
…aku tak akan mendengar lagi ejekan-ejekannya
…aku tak akan melihat senyum manisnya
…aku tak akan berteriak-teriak lagi memanggilnya karena dia mendadak budheg (baca : tuli) klo pake headphone

lalu…

…siapa yang akan mendengarku bercerita tentang cintah lagi
…siapa yang akan mengomentari aku kalau habis bertengkar dengan cintah di telpon
…siapa yang akan membelikan aku tissue lagi
…siapa yang akan kutawari cokelat lagi (meski jarang)
…siapa yang akan menertawaiku lagi tanpa bikin aku sakit hati
…siapa temanku bergosip tentang teman-teman jurusan, tentang kantor
…siapa temanku bercerita hal remeh temeh lagi

Aku sebal. Dulu ketika dia ada, kenapa semuanya terasa biasa saja. Kenapa sekarang bener-bener deh…malam itu pun bahkan terasa sangat menyayat. Mimpiku pun mengapa ikut-ikutan jadi buruk………sedih…….

Dan aku akan sangat kehilangan dia, sekarang, bahkan sebelum dia pergi. Aku berharap dia nggak pergi, tapi itu tak mungkin. Jadi aku berdoa saja, kuharap keberuntungannya menulariku. Amin…..

*shit, hanya dia yang orang di kantor yang gak pernah bocorin rahasia gw*

curhatFebruary 23, 2006 7:47 am

Pagi tadi sih masih baik-baik saja. Masih bangun kesiangan, masih berebutan kamar mandi dengan teman-teman kost, dan tak lupa masih mengucapkan assalamualaikum ke “ustadz”. Tapi pagi ini aku juga sarapan nasi - yang biasanya cuman minum segelas Hi Low, terus minum susu strawberi - yang biasanya sangat peduli berapa kalori yang masuk perut. Dan akhirnya ….duh, kenapa jadi mual ya…*berasa mau muntah*

Maag, hamil atau hutan itu jadi tumbuh di perut?
Kenapa aku bisa mual yah? Kalau gara-gara aku sarapan, gak banget lah, tau gara-gara minum susu, nggak juga, teman-teman kantor yang lain masih baik-baik saja setelah minum susu. Malah sebenarnya kemarin akulah yang lebih dulu memerawani susu itu dari kulkas kantor. Kalau bukan makanan, berarti kemungkinan cuman :
1. Maag
Sejak SMA gara-gara mulai jauh dari rumah, makanku mulai seenaknya. Kadang sarapan kadang tidak, makan juga tergantung situasi. Kalau lapar makan kalau tidak ya nggak makan. Bahkan kadang meski lapar pun akhirnya nggak makan juga cuman gara-gara malas keluar kost buat cari makanan. Jadinya aku potensi untuk punya penyakit yang kata dokterku wajar dimiliki seorang wanita. Namanya maag. Kata dokterku yang cerewet itu, wanita sering sekali punya maag gara-gara 3 hal. Suka makan yang pedas-pedas, suka makan yang asem-asem dan tidak suka makan (yang ini sih gara-gara diet biasanya). Tapi aku kan gak makan pedas, gak makan asem (kecuali susu tadi ternyata basi ….*jadi inget sama abang-abang yang jualan susu keliling kampung suka nyanyi lagu ini : …”susu basi nasional” *) terus aku makan. Jadi maag coret dari daftar.

2. Hamil
Wanita yang hamil biasanya mengalami perubahan hormonal yang menyebabkan perasaan tak enak dan mual. Begitukan, entahlah aku sendiri belum pernah hamil…he he, jadi yang ini nggak mungkin juga kan. Kecuali…

3. Hmmm……..
Perasaan tak enak yang membuncah di dada terus menular ke organ tubuh lain termasuk perut. Perasaan itu seperti hutan yang tumbuh…he he, itu sih definisi pribadiku.
Tapi setidaknya perasaan itu memperkuat rasa mualku, lebih tepatnya lagi memperkuat keinginan untuk tidak enak makan, tidak enak bekerja dan jadi serba salah. Tangan yang mulai berkeringat dingin dan gemetar, keringat dingin yang menjalar ke seluruh tubuh membarengi aliran darah yang semakin deras. Uhhh, perasaannya hampir sama seperti mau ujian atau disuruh presentasi pas kuliah dulu. *kok sepertinya jadi OOT ya*

Jadi intinya aku mual lebih banyak karena faktor yang terakhir. So aku mau menuntut tanggung jawab ke orang yang bikin aku jadi mual…..damn damn……

'bout MEJanuary 9, 2006 2:13 am

Waktu itu sebenarnya waktu paling membahagiakan bagi para pekerja. Jumat hampir pukul 5 sore. Apalagi ditambah hari senin depannya dinobatkan sebagai harpitnas. Tapi justru di saat-saat indah itu aku melakukan hal yang sangat stupid.

Bermula dari keinginanku untuk sekedar curhat pada seorang teman. Karena salah paham yang nggak lucu membuat aku jadi emosi *membela diri*. Aku merasa dia tahu apa yang aku maksud, tapi entah kenapa dia masih mempertanyakan lagi. Akhirnya aku menjadi marah dan sepertinya dia juga. Bedanya aku juga menangis lagi untuk kesekian kalinya tapi untuk alasan yang lain dari biasanya.

Kesalahan Terbesar
Parahnya sebenarnya karena pertama, aku lah yang memulai bercerita tapi justru aku lah yang menjadi emosi pada akhirnya. Kedua dan sepertinya kesalahan terbesar, aku telah melanggar batas-batas kesopanan dengan mengatakan hal-hal yang kekanak-kanakan (dan kasar) terutama karena dia adalah juga bosku. Ketiga, karena pada akhirnya aku nggak bisa berkata-kata dan nggak bisa menahan air mata. Untungnya dia nggak liat *pyuh*.

Kemarahan Berlapis
Sebenarnya hal seperti ini sering aku alami dengan cintah. Untunglah cintah selalu sabar dan yang jelas dia belajar untuk mengerti aku.
Temanku bilang dia juga sering mengalaminya. Aku sendiri menyebutkan kemarahan berlapis. Yaitu ketika aku marah , kemudian orang di dekatku (baik yang tidak tahu apa-apa maupun yang kita curhatin) merasa nggak nyaman karena aku marah dan akhirnya jadi sebel sama aku. Lalu aku sendiri balik jadi marah ke dia karena kemarahan & ketidakmengertian dia. Akhirnya objek kemarahku bertambah dan akan begitu seterusnya. Sampai puncaknya suatu ketika nanti kalau hal itu tidak terselesaikan maka aku akan menjadi marah bahkan tanpa sebab. *masalah yang rumit*

Sudahlah?
Kemarin sih aku pikir sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja dia marah. Atau jika dia marahpun nanti aku minta maaf. Atau ekstrimnya jika dia nggak terima, ya….sudahlah. Tapi, semalam aku memimpikannya, lebih tepatnya suaranya. Di sela-sela mimpi petualanganku yang sedang menyamar ke markas musuh (aku sering bermimpi hal-hal aneh seperti ini), dia menelponku. Pertamanya sih suaranya masih tegas, tapi setelah aku mendengar tertawa dan becandanya, aku tau dia sudah memaafkanku. Mengenai apa yang dibicarakan di telepon waktu itu, aku juga lupa.

Jadi sekarang aku berharap saja dia akan melupakan masalah kemarin itu. Setidaknya dia nggak menanyakan lagi padaku. Karena di hari itu aku merasa sangat bodoh.

'bout ME, my off(ice)January 4, 2006 4:35 am

Tahun ini, tepatnya awal bulan ini, di kantorku ada tambahan tenaga lagi. Dan kayaknya karena kantor ini semula gersang kayak kampusku dulu, makanya orang-orang yang baru adalah cewek. Kata bosku nih, biar ada penyeimbang. He he, belum tau dia, satu cewek mungkin ok, dua boleh, tapi klo sampe 5 - belum ditambah istri dan anak ceweknya - berat.

Menggusur Tempatku
Kedatangan mereka (soalnya ada 2 orang sekaligus yang masuk) salah satunya untuk menggeser posisiku. Dan aku dengan agak berat hati menyingkir untuk pindah ke fungsi lain.
Sebenarnya awalnya aku juga masih ragu-ragu, ya banyak pertimbanganlah. Salah satunya yang agak memberati adalah soal kemapanan. Selama ini aku dah merasa nyaman kerja bareng bosku, pekerjaan yang aku handle pun sedikit banyak aku dah tau celah-celahnya. Tapi dengan keyword bosan dan ingin maju, aku putuskan juga untuk pindah.

Seperti Biasa Semua Belum Pasti
Tapi itu ternyata baru rencana. Sampai bulan April, minimal Maret nanti ternyata posisiku masih sama. Masih dengan pekerjaan yang sama, bos yang sama, partner yang sama. Jadi masih ada waktu minimal 3 bulan untuk berkeluh kesah lagi. Entahlah, aku merasa segalanya menjadi tambah nggak pasti sekarang ini. Mungkin aku juga nggak pasti akan masih ada di sini hingga umurku 25 nanti.

“Apa yang kauharapkan jika umurmu seperempat abad nanti?”