Waktu itu sebenarnya waktu paling membahagiakan bagi para pekerja. Jumat hampir pukul 5 sore. Apalagi ditambah hari senin depannya dinobatkan sebagai harpitnas. Tapi justru di saat-saat indah itu aku melakukan hal yang sangat stupid.

Bermula dari keinginanku untuk sekedar curhat pada seorang teman. Karena salah paham yang nggak lucu membuat aku jadi emosi *membela diri*. Aku merasa dia tahu apa yang aku maksud, tapi entah kenapa dia masih mempertanyakan lagi. Akhirnya aku menjadi marah dan sepertinya dia juga. Bedanya aku juga menangis lagi untuk kesekian kalinya tapi untuk alasan yang lain dari biasanya.

Kesalahan Terbesar
Parahnya sebenarnya karena pertama, aku lah yang memulai bercerita tapi justru aku lah yang menjadi emosi pada akhirnya. Kedua dan sepertinya kesalahan terbesar, aku telah melanggar batas-batas kesopanan dengan mengatakan hal-hal yang kekanak-kanakan (dan kasar) terutama karena dia adalah juga bosku. Ketiga, karena pada akhirnya aku nggak bisa berkata-kata dan nggak bisa menahan air mata. Untungnya dia nggak liat *pyuh*.

Kemarahan Berlapis
Sebenarnya hal seperti ini sering aku alami dengan cintah. Untunglah cintah selalu sabar dan yang jelas dia belajar untuk mengerti aku.
Temanku bilang dia juga sering mengalaminya. Aku sendiri menyebutkan kemarahan berlapis. Yaitu ketika aku marah , kemudian orang di dekatku (baik yang tidak tahu apa-apa maupun yang kita curhatin) merasa nggak nyaman karena aku marah dan akhirnya jadi sebel sama aku. Lalu aku sendiri balik jadi marah ke dia karena kemarahan & ketidakmengertian dia. Akhirnya objek kemarahku bertambah dan akan begitu seterusnya. Sampai puncaknya suatu ketika nanti kalau hal itu tidak terselesaikan maka aku akan menjadi marah bahkan tanpa sebab. *masalah yang rumit*

Sudahlah?
Kemarin sih aku pikir sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja dia marah. Atau jika dia marahpun nanti aku minta maaf. Atau ekstrimnya jika dia nggak terima, ya….sudahlah. Tapi, semalam aku memimpikannya, lebih tepatnya suaranya. Di sela-sela mimpi petualanganku yang sedang menyamar ke markas musuh (aku sering bermimpi hal-hal aneh seperti ini), dia menelponku. Pertamanya sih suaranya masih tegas, tapi setelah aku mendengar tertawa dan becandanya, aku tau dia sudah memaafkanku. Mengenai apa yang dibicarakan di telepon waktu itu, aku juga lupa.

Jadi sekarang aku berharap saja dia akan melupakan masalah kemarin itu. Setidaknya dia nggak menanyakan lagi padaku. Karena di hari itu aku merasa sangat bodoh.