Ternyata butuh keberanian yang besar meski hanya sekedar untuk menanyakan hal ini padanya. Mungkin seberat ketika harus bertanya pada seseorang apakah dia mau menjadi kekasih kita.

Ternyata butuh banyak persiapan meski sekedar untuk bertanya. Menyiapkan kata-kata pembuka, mencari moment yang tepat, menyiapkan jawaban jika dia balik menanyakan alasanku atau alasannya kenapa harus menerimaku, mempetimbangkan apakah sudah tepat aku bertanya dan terutama menyiapkan mental jika ternyata dia menolakku.

Dan hari itu, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani menanyakan lewat sms, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani menanyakan dengan nada becanda, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani memasang status di YM : menunggumu mengatakan YA atau TIDAK, akhirnya aku memberanikah diri bertanya dengan serius (ini pun lewat telpon, karena aku tak akan punya keberanian lebih untuk menatap wajahnya yang dengan tersenyum mengatakan MAAF jika ternyata dia menolakku).

Seperti yang tlah kuduga, dia mengatakan TIDAK. Aku tahu itu pasti terjadi tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan. Kata-katanya yang menjelaskan mengapa harus TIDAK aku tak mendengar lagi bahkan udara di sekitarku menjadi dingin entah karena AC atau karena tubuhku yang sudah berkeringat dingin sedari tadi.

Tapi ternyata juga, meski berat, setelah awalnya terlewati semua menjadi mudah. Lidahpun tak terasa kelu dan kata-kata pun dengan lancar menceritakan padanya. Tentang betapa berat memulai, tentang keluh kesah yang kurasakan selama ini, tentang betapa leganya aku sekarang.

Satu hal yang aku tak bilang ke dia, aku ingin menangis ketika dia bilang TIDAK, tapi aku tak bisa.
*Mungkin aku tak sesedih itu*

- tulisanku kok jadi aneh ya, mungkin karena sudah tak ada soul nya lagi peristiwa kemarin :) -