Kinanthi Ny(S)andhung

'bout MEAugust 31, 2006 5:24 am

Seharusnya aku bersemangat hari ini. Seperti minggu lalu. Dengan kesibukan lama untuk sesuatu yang baru.
Seharusnya aku mulai melanjutkan lagi hari ini. Rencana-rencana sebelumnya. Mengejar waktu yang berlari ringan tanpa beban.
Seharusnya aku bersiap-siap hari ini. Karena bekalku terasa tipis. Terlalu banyak yang aku tak punya.
Seharusnya aku tersenyum hari ini. Impianku tinggal sebentar lagi. Gerbang itu bahkan sudah terlihat dari sini.

Tapi rasanya hampa.
Kakiku masih terus berjalan, tapi hatiku tertinggal di belakang.
Aku ingin berhenti sejenak. Memandang yang lalu, yang berat kutinggalkan.
Aku ingin berlari. Menjauh dari semua ini. Membiarkan semua terjadi tanpa kuasaku.

Takut…..di sana mungkin akan asing sekali.
Jauh berbeda dan tanpa semua yang dulu pernah ada.

Yang kuingin sekarang hanyalah ada tanganmu.
Yang menyeretku berlari ke gerbang itu. Berlari membawa nafasku.
Yang kuingin sekarang hanyalah pelukmu.
Yang menutupi mataku. Membawa damaiku dalam gelap.

*mungkin sakit kepala ini yang membuatku bimbang, atau bimbang ini yang membuatku sakit kepala*

'bout MEJanuary 9, 2006 2:13 am

Waktu itu sebenarnya waktu paling membahagiakan bagi para pekerja. Jumat hampir pukul 5 sore. Apalagi ditambah hari senin depannya dinobatkan sebagai harpitnas. Tapi justru di saat-saat indah itu aku melakukan hal yang sangat stupid.

Bermula dari keinginanku untuk sekedar curhat pada seorang teman. Karena salah paham yang nggak lucu membuat aku jadi emosi *membela diri*. Aku merasa dia tahu apa yang aku maksud, tapi entah kenapa dia masih mempertanyakan lagi. Akhirnya aku menjadi marah dan sepertinya dia juga. Bedanya aku juga menangis lagi untuk kesekian kalinya tapi untuk alasan yang lain dari biasanya.

Kesalahan Terbesar
Parahnya sebenarnya karena pertama, aku lah yang memulai bercerita tapi justru aku lah yang menjadi emosi pada akhirnya. Kedua dan sepertinya kesalahan terbesar, aku telah melanggar batas-batas kesopanan dengan mengatakan hal-hal yang kekanak-kanakan (dan kasar) terutama karena dia adalah juga bosku. Ketiga, karena pada akhirnya aku nggak bisa berkata-kata dan nggak bisa menahan air mata. Untungnya dia nggak liat *pyuh*.

Kemarahan Berlapis
Sebenarnya hal seperti ini sering aku alami dengan cintah. Untunglah cintah selalu sabar dan yang jelas dia belajar untuk mengerti aku.
Temanku bilang dia juga sering mengalaminya. Aku sendiri menyebutkan kemarahan berlapis. Yaitu ketika aku marah , kemudian orang di dekatku (baik yang tidak tahu apa-apa maupun yang kita curhatin) merasa nggak nyaman karena aku marah dan akhirnya jadi sebel sama aku. Lalu aku sendiri balik jadi marah ke dia karena kemarahan & ketidakmengertian dia. Akhirnya objek kemarahku bertambah dan akan begitu seterusnya. Sampai puncaknya suatu ketika nanti kalau hal itu tidak terselesaikan maka aku akan menjadi marah bahkan tanpa sebab. *masalah yang rumit*

Sudahlah?
Kemarin sih aku pikir sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja dia marah. Atau jika dia marahpun nanti aku minta maaf. Atau ekstrimnya jika dia nggak terima, ya….sudahlah. Tapi, semalam aku memimpikannya, lebih tepatnya suaranya. Di sela-sela mimpi petualanganku yang sedang menyamar ke markas musuh (aku sering bermimpi hal-hal aneh seperti ini), dia menelponku. Pertamanya sih suaranya masih tegas, tapi setelah aku mendengar tertawa dan becandanya, aku tau dia sudah memaafkanku. Mengenai apa yang dibicarakan di telepon waktu itu, aku juga lupa.

Jadi sekarang aku berharap saja dia akan melupakan masalah kemarin itu. Setidaknya dia nggak menanyakan lagi padaku. Karena di hari itu aku merasa sangat bodoh.

'bout ME, my off(ice)January 4, 2006 4:35 am

Tahun ini, tepatnya awal bulan ini, di kantorku ada tambahan tenaga lagi. Dan kayaknya karena kantor ini semula gersang kayak kampusku dulu, makanya orang-orang yang baru adalah cewek. Kata bosku nih, biar ada penyeimbang. He he, belum tau dia, satu cewek mungkin ok, dua boleh, tapi klo sampe 5 - belum ditambah istri dan anak ceweknya - berat.

Menggusur Tempatku
Kedatangan mereka (soalnya ada 2 orang sekaligus yang masuk) salah satunya untuk menggeser posisiku. Dan aku dengan agak berat hati menyingkir untuk pindah ke fungsi lain.
Sebenarnya awalnya aku juga masih ragu-ragu, ya banyak pertimbanganlah. Salah satunya yang agak memberati adalah soal kemapanan. Selama ini aku dah merasa nyaman kerja bareng bosku, pekerjaan yang aku handle pun sedikit banyak aku dah tau celah-celahnya. Tapi dengan keyword bosan dan ingin maju, aku putuskan juga untuk pindah.

Seperti Biasa Semua Belum Pasti
Tapi itu ternyata baru rencana. Sampai bulan April, minimal Maret nanti ternyata posisiku masih sama. Masih dengan pekerjaan yang sama, bos yang sama, partner yang sama. Jadi masih ada waktu minimal 3 bulan untuk berkeluh kesah lagi. Entahlah, aku merasa segalanya menjadi tambah nggak pasti sekarang ini. Mungkin aku juga nggak pasti akan masih ada di sini hingga umurku 25 nanti.

“Apa yang kauharapkan jika umurmu seperempat abad nanti?”