“Ennis merasa seakan isi perutnya ditarik keluar perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Dia berhenti di tepi jalan, dan dalam serbuan salju yang baru turun dia berusaha muntah, tapi tidak ada yang keluar. Belum pernah dia merasa seburuk ini, dan butuh waktu lama hingga perasaan itu hilang.”
Sepenggal resensi yang aku lihat di toko buku langgananku membuatku tertarik untuk membelinya. Karena selain penafsiran penulis tentang bagaimana perasaan seseorang ketika jatuh cinta hampir mirip dengan penafsiranku, film yang diambil dan diberi judul yang sama dengan buku ini (baca : Brokeback Mountain) berhasil masuk nominasi Oscar.
Dengan tanpa bermaksud mengatakan bahwa semua film yang masuk nominasi Oscar bagus. Terkadang label Oscar justru menipu (tidak termasuk A Beautiful Mind & LOTR). Tapi sepertinya film yang berkisah tentang cinta dua manusia yang sama jenis ini menawarkan sesuatu yang berbeda.
Buku Tipis Itu
Sebenarnya jalan cerita kisah yang ditulis dalam buku yang hanya setebal 79 halaman ini sangatlah padat dengan bahasa yang singkat. Mulai dari pekerjaan yang mempertemukan mereka (Annes & Jack) di Gunung Brokeback, sepenggal kisah ketika cinta mereka bersemi, kehidupan normal mereka setelah berpisah (punya istri & anak), pertemuan kembali mereka, perpisahan mereka kembali hingga sebuah surat yang mengabarkan bahwa Jack telah meninggal dunia.
Pada awalnya sempat ragu juga, bagaimana mungkin buku setipis ini dapat mengungkapkan kisah yang dapat difilmkan dalam 2 jam. Karena pada dasarnya dengan buku, sebuah cerita dapat disampaikan dengan lebih kaya dan lebih luas. Tidak terpatok waktu dan tempat atau juga tidak terpatok pada suatu karakter atau watak yang harus diwakilkan pada seorang tokoh seperti halnya film. Bandingkan dengan Harry Potter yang minimal punya tebal 300 an halaman dan itupun menjadi tidak lengkap ketika dijadikan film hanya 3 jam.
Hmm…buku favoritku, Negeri Kabut-nya SGA, sepertinya menarik juga untuk difilmkan. Dan sepertinya untuk saat ini hanya Garin Nugraha yang sanggup. Siapa tahu bisa mendapat Golden Globe sebagai sutradara terbaik seperti Ang Lee, sutradara film Brokeback Mountain ini.
Cinta Yang Mengharukan
Bagian paling menarik adalah ketika Ennis mencoba menelusur kembali kehidupan Jack dengan mendatangi rumah orang tua Jack setelah Jack meninggal dunia. Mengenang kembali saat-saat bersama Jack, memandangi kamar Jack seakan-akan ada Jack di sana. Dan selalu bersyukur lega ketika saat tidur malam mimpinya adalah tentang Jack. Menemukan kemejanya yang hilang, yang ternyata diambil diam-diam oleh Jack. Kemeja dengan bekas darah dan kancing yang sudah lepas sana sini….uhhh…..
Bagiku ini sungguh-sungguh mengharukan dan membuat dadaku terasa perih, sesak. Tanpa tersadar air mata sudah mengalir di pipiku. Bagaimana mungkin sebuah hubungan seperti mereka bisa begitu indah dan terasa nyata. Sedangkan selama ini aku berpikiran bahwa hubungan lawan jenis hanya akan terjadi dengan alasan seks (untuk gay) dan alasan feminisme (untuk lesbian). Ah, mungkin aku harus membuka lagi pikiranku.
Sepertinya film ini adalah target aku nonton bulan ini. Selain Realita, Cinta & Rock ‘n Roll yang menurut rekomendasi temanku sangat bagus dan layak untuk mendapatkan nominasi Oscar. Ayo nonton..
..dan ternyata Ang Lee pun juga menangis…