Kinanthi Ny(S)andhung

my off(ice)March 23, 2006 3:56 am

Ternyata butuh keberanian yang besar meski hanya sekedar untuk menanyakan hal ini padanya. Mungkin seberat ketika harus bertanya pada seseorang apakah dia mau menjadi kekasih kita.

Ternyata butuh banyak persiapan meski sekedar untuk bertanya. Menyiapkan kata-kata pembuka, mencari moment yang tepat, menyiapkan jawaban jika dia balik menanyakan alasanku atau alasannya kenapa harus menerimaku, mempetimbangkan apakah sudah tepat aku bertanya dan terutama menyiapkan mental jika ternyata dia menolakku.

Dan hari itu, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani menanyakan lewat sms, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani menanyakan dengan nada becanda, setelah berhari-hari sebelumnya aku hanya berani memasang status di YM : menunggumu mengatakan YA atau TIDAK, akhirnya aku memberanikah diri bertanya dengan serius (ini pun lewat telpon, karena aku tak akan punya keberanian lebih untuk menatap wajahnya yang dengan tersenyum mengatakan MAAF jika ternyata dia menolakku).

Seperti yang tlah kuduga, dia mengatakan TIDAK. Aku tahu itu pasti terjadi tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan. Kata-katanya yang menjelaskan mengapa harus TIDAK aku tak mendengar lagi bahkan udara di sekitarku menjadi dingin entah karena AC atau karena tubuhku yang sudah berkeringat dingin sedari tadi.

Tapi ternyata juga, meski berat, setelah awalnya terlewati semua menjadi mudah. Lidahpun tak terasa kelu dan kata-kata pun dengan lancar menceritakan padanya. Tentang betapa berat memulai, tentang keluh kesah yang kurasakan selama ini, tentang betapa leganya aku sekarang.

Satu hal yang aku tak bilang ke dia, aku ingin menangis ketika dia bilang TIDAK, tapi aku tak bisa.
*Mungkin aku tak sesedih itu*

- tulisanku kok jadi aneh ya, mungkin karena sudah tak ada soul nya lagi peristiwa kemarin :) -

my off(ice)March 2, 2006 10:35 am

Pertama kali dia bilang klo dia mo pindah kantor, aku tersenyum. Kemudian aku tertawa dan merasa senang. Alhamdulillah, akhirnya dia akan menemukan kehidupan yang lebih baik. Berkali-kali aku mengucapkan selamat dan bertepuk tangan. Untunglah tidak kubawakan tarian kemenangan..he he…

Waktu pulang ke rumah, aku baru sadar. Kalau dia pergi……

…aku tak akan setiap hari bertemu dengannya
…aku tak akan mendengar lagi ejekan-ejekannya
…aku tak akan melihat senyum manisnya
…aku tak akan berteriak-teriak lagi memanggilnya karena dia mendadak budheg (baca : tuli) klo pake headphone

lalu…

…siapa yang akan mendengarku bercerita tentang cintah lagi
…siapa yang akan mengomentari aku kalau habis bertengkar dengan cintah di telpon
…siapa yang akan membelikan aku tissue lagi
…siapa yang akan kutawari cokelat lagi (meski jarang)
…siapa yang akan menertawaiku lagi tanpa bikin aku sakit hati
…siapa temanku bergosip tentang teman-teman jurusan, tentang kantor
…siapa temanku bercerita hal remeh temeh lagi

Aku sebal. Dulu ketika dia ada, kenapa semuanya terasa biasa saja. Kenapa sekarang bener-bener deh…malam itu pun bahkan terasa sangat menyayat. Mimpiku pun mengapa ikut-ikutan jadi buruk………sedih…….

Dan aku akan sangat kehilangan dia, sekarang, bahkan sebelum dia pergi. Aku berharap dia nggak pergi, tapi itu tak mungkin. Jadi aku berdoa saja, kuharap keberuntungannya menulariku. Amin…..

*shit, hanya dia yang orang di kantor yang gak pernah bocorin rahasia gw*

'bout ME, my off(ice)January 4, 2006 4:35 am

Tahun ini, tepatnya awal bulan ini, di kantorku ada tambahan tenaga lagi. Dan kayaknya karena kantor ini semula gersang kayak kampusku dulu, makanya orang-orang yang baru adalah cewek. Kata bosku nih, biar ada penyeimbang. He he, belum tau dia, satu cewek mungkin ok, dua boleh, tapi klo sampe 5 - belum ditambah istri dan anak ceweknya - berat.

Menggusur Tempatku
Kedatangan mereka (soalnya ada 2 orang sekaligus yang masuk) salah satunya untuk menggeser posisiku. Dan aku dengan agak berat hati menyingkir untuk pindah ke fungsi lain.
Sebenarnya awalnya aku juga masih ragu-ragu, ya banyak pertimbanganlah. Salah satunya yang agak memberati adalah soal kemapanan. Selama ini aku dah merasa nyaman kerja bareng bosku, pekerjaan yang aku handle pun sedikit banyak aku dah tau celah-celahnya. Tapi dengan keyword bosan dan ingin maju, aku putuskan juga untuk pindah.

Seperti Biasa Semua Belum Pasti
Tapi itu ternyata baru rencana. Sampai bulan April, minimal Maret nanti ternyata posisiku masih sama. Masih dengan pekerjaan yang sama, bos yang sama, partner yang sama. Jadi masih ada waktu minimal 3 bulan untuk berkeluh kesah lagi. Entahlah, aku merasa segalanya menjadi tambah nggak pasti sekarang ini. Mungkin aku juga nggak pasti akan masih ada di sini hingga umurku 25 nanti.

“Apa yang kauharapkan jika umurmu seperempat abad nanti?”

curhat, my off(ice)September 26, 2005 4:40 am

Perlu nggak sih kita datang pagi-pagi ke kantor, minimal satu jam sebelumnya?
Biasanya sih aku mikir nggak perlu, ngapain gitu loh, mending juga di rumah, bobok manis, ngrumpi sama temen sebelah kamar, atau melakukan hal lain yang lebih penting, misal nonton berita pagi di TV.
Tapi pagi ini aku memutuskan untuk berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Dengan motivasi mengerjakan PR dari boss yang belum sempet dilirik 2 hari kemarin - masak liburan suruh kerja-*timpuk boss*, jam 7 lewat dikit aku dah nongkrong di kantor. Gile, sepi bener ya, di bagianku tak tampak satupun makhluk.
Kemudian dengan bersemangat aku buka komputer, buka email, aktifin YM, baru buka file kerjaan & mulai kerja. Setengah jam kemudian temen2 lain mulai berdatangan lengkap dengan komentarnya, “tumben Ra, jam segini dah di kantor”. *lempar senyum manyun ke temen2*
Sejam kemudian, kerjaan agak kelar, agak lega, soalnya boss butuh buat meeting jam 9. Sambil cari makanan, sengaja lewat depan meja boss….lho, kok nggak ada - ditandai dengan nggak ada tas ranselnya & komputer nggak nyala- wah, payah nih. Pas aku tanyain ke sekretarisnya, bener nih, hari ini dia nggak masuk, buah hatinya lagi sakit *kasihan*.
Akhirnya aku kembali ke meja dengan malas. Sebel, dah dibela-belain masuk pagi-pagi bener, taunya…..*monyong-monyong sendiri*

BUT…..
ternyata pagi hari di Jakarta sejuk lho, jalan serasa ringan, gak keburu-buru, belum banyak mobil yang lewat di gang kostku, belum lagi kamar mandi di kost gak begitu rebutan klo mandinya pagi-pagi bener, terus klo mau sarapan dulu kayaknya lebih tenang, internet pagi-pagi gak lelet…..

TERUS….
besok pagi mau dateng pagi-pagi bener di kantor???????

NGGAK LAH, mending nglanjutin mimpi indah aja di rumah, sayang..:p

my off(ice)July 22, 2005 11:10 am

Meski tanggal 17 Agustus masih jauh, masih 3 minggu lebih, tapi di kantorku gaungnya sudah terasa mengilik-ilik telinga. Sebenarnya bukan tentang kemerdekaan yang jadi topik utama, juga bukan tentang nasionalisme, bahkan juga bukan tentang persatuan dan kesatuan (nyontek istilah nih) Artajasa. Ini hanya tentang “hura-hura” kami di tengah sibuknya deadline dan gencetan dari AJ 1 alias big boss.

Dengan bekal itu terbentuklah sekumpulan panitia yang tugasnya membuat Artajasa -yang notabene anaknya Lintasarta, yang berarti cucunya Indosat, yang semua orang tau klo Indosat itu saham mayoritasnya bukan punya Indonesia- sadar diri bahwa kita masih menyewa tanah di negeri ini.

Berkat kegigihan panitia dalam melobi boss untuk membuat acara yang “hampir” biasa, soalnya ada beberapa acara yang unik terpaksa dibatalkan. Acara yang “dengan ikhlas” tidak jadi dilakukan contohnya pertandingan bridge. “Olahraga” yang dianggap cukup menarik dan diusulkan oleh kawula muda ini mungkin dianggap boss merugikan jam kantor. Karena selain membuat ketagihan, belum apa-apa ada yang mengusulkan untuk membawa kartu ke kantor sebagai latihan.

Untunglah masih dibolehkan ada pertandingan gaple. Permainan yang bagi sebagian orang hanya sekelas cangkulan -permainan yang mengandalkan keberuntungan dan biasanya dimainkan para ronda-wan dan tetek-wan ini- ternyata (kabar dari agustusan tahun lalu) mampu menguras otak dan dimainkan dengan strategi-strategi yang nggak kalah canggihnya dengan bridge.

Acara lain masih seputar acara olahraga yang biasa, ada pertandingan tenis meja, tenis lapangan, bulutangkis, volley, basket 3 on 3 (tapi bukan crashbone lho….., yang ini tetep pake 2 basket dengan lapangan yang lebih kecil). Alhamdulillah ada juga acara futsal atau sepakbola ya (apa bedanya sih) namanya sepakbola pantai, jadi mirip volley pantai tapi gak pake net, terus pemainnya 5 orang bukan 2 orang, bolanya ditendang pake kaki bukan pake tangan dan setiap team harus memasukkan bola ke gawang lawan (yee…itu emang namanya sepak bola)…yang jelas gak ada yang pake bikini (hi hi hi…kecewa).

Dari semua pertandingan yang sepertinya maskulin banget, ada karaoke khusus buat yang merasa pede memiliki suara bagus untuk diperdengarkan, bukan di”sumbang”kan. Terutama untuk disuguhkan pada acara puncak yang acaranya masih dirahasiakan oleh panitia (tapi aku sudah nyumbang ide bikin lomba kayak pas anak-anak dulu, makan kerupuk, ambil koin di durian, mecahin balon isi cat…sadis).

Akhirnya, salut banget sama panitianya yang dibalik kesibukan dan rutinitas kerja masih sempet mikiran kebutuhan “budak-budak” ini. Sayangnya ada beberapa orang yang harus mengejar target untuk menyelesaikan proyek SKN bulan ini…..dan itu lho…mosok catur wae dilarang…….